Minggu, 20 Desember 2015

LEMBAGA MANAKAH YANG BERWENANG MENGELUARKAN DATA PENERIMA PROGRAM BANTUAN?

Polemik Raskin dari PPLS2011 hingga PBDT2015

Beberapa waktu yang lalu ada seorang pimpinan salah satu instansi pemerintah di Kabupaten Banggai Laut yang menghubungi saya via telepon. Beliau menanyakan tentang jumlah rumah tangga sasaran (RTS) berdasarkan data Program Perlindungan Sosial (PPLS2011) yang pendataannya dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2011 yang lalu. Data tersebut menurut beliau akan digunakan sebagai dasar penyaluran beras miskin (raskin) dalam rangka Sail Tomini untuk 2784 RTS yang masing-masing memperoleh 15 kg beras. Sebenarnya data RTS penerima program bantuan dari pemerintah sudah ada di Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD)  yang berada langsung di bawah Wakil Bupati. Tetapi menurut pimpinan instansi tersebut data berdasarkan nama dan alamat (by name by address) penerima program raskin tidak ada di Sekretariat Daerah (Setda). Jika benar data tersebut tidak ada, lalu dari mana pemerintah daerah bisa menentukan siapa-siapa saja penerima raskin pada program Raskin yang masih berjalan? Menurut beliau lagi, kemungkinan data tersebut ada di Setda Kabupaten Banggai Kepulauan karena Kabupaten Banggai Laut merupakan pemekaran dari Kabupaten Banggai Kepulauan yang mekar pada tahun 2012. Saya lalu menyarankan untuk mengajukan permintaan data ke Setda Banggai Kepulauan. Tetapi karena pimpinan instansi tersebut tahu bahwa BPS yang melakukan pendataan PPLS2011 dan berhubung waktu pembagian raskin sudah dekat, akhirnya beliau meminta data by name by address tersebut ke BPS.
Sebenarnya yang memiliki kewenangan untuk mengeluarkan data by name by address adalah TNP2K, bukan BPS. Data PPLS2011 yang diserahkan oleh BPS diolah lagi oleh TNP2K yang merupakan unit kerja di bawah koordinasi langsung Wakil Presiden RI. Selanjutnya data tersebut digunakan sebagai basis data terpadu (BDT) untuk berbagai program perlindungan sosial yang dicanangkan oleh pemerintah pusat maupun daerah sehingga nama-nama penerima bantuan hanya dikeluarkan oleh TNP2K sesuai proposal bantuan yang diajukan oleh pemerintah atau instansi terkait.  Setelah diolah oleh TNP2K, data tersebut langsung dikirim ke Pemerintah Daerah (Pemda). Untuk level provinsi hingga kabupaten terdapat Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) yang diketuai oleh Wakil Kepala Daerah. Di provinsi, TKPKD berada di bawah Wakil Gubernur sedangkan di kabupaten/kota berada di bawah Wakil Bupati. Jadi, jika ada instansi terkait yang membutuhkan data by name by address untuk keperluan program bantuan seharusnya menanyakan langsung ke TNP2K atau ke TKPKD, bukan ke BPS karena posisi BPS hanya pada proses pendataan PPLS2011, sama sekali  tidak terkait dengan penentuan kriteria penerima Raskin maupun nama-nama penerima program bantuan sosial lainnya.
Alur inilah yang selama ini kurang dipahami oleh masyarakat luas maupun SKPD. Mereka beranggapan BPSlah satu-satunya pihak yang bertanggung-jawab terhadap penurunan jumlah penerima raskin. Padahal, berdasarkan metode proxy mean test (PMT) yang digunakan untuk mengolah data PPLS2011 dimana semua rumah tangga yang masuk dalam basis data terpadu diperingkat berdasarkan status kesejahteraannya, diperoleh bahwa  mereka yang didata pada PPLS2011 tidak serta merta menjadi rumah tangga sasaran penerima bantuan. Ditambah lagi kriteria penerima berbagai program perlindungan sosial ditentukan oleh TNP2K dan lembaga yang terkait dengan program tersebut. Untuk program Raskin, kriteria penerimanya ditentukan oleh TNP2K bersama dengan Kementerian Koordinator Bidang Kesra, bukan dengan BPS. Itulah sebabnya mengapa jumlah penerima bantuan berdasarkan hasil pendataan PPLS2011 yang dilakukan oleh BPS tidak sama dengan jumlah penerima bantuan setelah data tersebut diolah oleh TNP2K. Rata-rata di Sulawesi Tengah maupun di Indonesia pada umumnya mengalami penurunan jumlah penerima bantuan yang signifikan.
Mungkin masih banyak masyarakat yang belum mengetahui apa sesungguhnya tupoksi BPS. Badan Pusat Statistik (BPS) merupakan Lembaga Pemerintah Non-Kementerian yang berperan sebagai penyedia data bagi pemerintah dan masyarakat. Data dan informasi statistik  yang  dihasilkan oleh  BPS  digunakan  sebagai dasar  untuk  menyusun  perencanaan, melakukan  evaluasi,  membuat  keputusan,  dan memformulasikan  kebijakan. Secara knowledge, digunakan sebagai alat analisis baik analisis deskriptif maupun inferensial. Di  bidang  ekonomi, data yang banyak dimanfaatkan oleh para pengguna data antara lain data inflasi, pertumbuhan ekonomi, statistik  perhubungan dan  pariwisata,  statistik  ekspor  dan  impor, statistik  industri,  dan  statistik pertanian.  Sedangkan di  bidang  sosial, data  yang  banyak dimanfaatkan para pengguna data antara lain data kemiskinan,  pengangguran, penduduk, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Data PPLS2011 termasuk dalam data bidang sosial ini. Tujuan pendataan PPLS2011 sendiri adalah untuk mendapatkan data 40% rumah tangga dengan tingkat kesejahteraan terbawah di seluruh Indonesia yaitu sekitar 25 juta rumah tangga. Setelah diolah, data ini akan dijadikan basis data terpadu untuk berbagai program sosial yang dicanangkan oleh pemerintah.
Pada bulan Juni-Juli 2015 yang lalu telah dilakukan pencacahan PBDT (Pemutakhiran Basis Data Terpadu) yang merupakan pemutakhiran dari data PPLS2011. PBDT2015 dilaksanakan serentak di 34 provinsi di seluruh Indonesia. Di Sulawesi Tengah, PBDT dilaksanakan di 12 kabupaten/kota, 149 kecamatan, 147 kelurahan dan 1593 desa. PBDT2015 ini bertujuan untuk memperoleh keterangan rumah tangga dan individu anggota rumah tangga yang akan digunakan sebagai data informasi mutakhir. Target rumah tangga yang didata sama dengan PPLS2011 yaitu 40% rumah tangga dengan tingkat kesejahteraan terbawah. Dengan kata lain, data PPLS2011 nantinya tidak lagi dijadikan dasar untuk program-program perlindungan sosial karena sudah dimutakhirkan melalui PBDT2015. Data ini akan dijadikan acuan untuk penetapan berbagai program perlindungan sosial diantaranya Program Keluarga Sejahtera, Program Indonesia Pintar, Program Indonesia Sehat, Beras untuk Rakyat Miskin (Raskin), dan Program Keluarga Harapan (PKH).       
Sekali lagi, penting untuk dipahami bahwa BPS hanya menyediakan data yang dibutuhkan masyarakat sebagai pengguna data. Selanjutnya data tersebut menjadi dasar penentuan kebijakan bagi para stakeholder dalam hal ini kementerian/kembaga terkait untuk mengambil keputusan. BPS sama sekali tidak memiliki kewenangan untuk menentukan siapa-siapa saja yang berhak menerima program bantuan apapun termasuk program Raskin.
PBDT2015 kemarin sudah tersosialisasi dengan baik melalui pertemuan dengan para stakeholder dan juga melalui Forum Komunikasi Publik (FKP) yang dilaksanakan di setiap kecamatan. BPS berharap melalui pertemuan dan FKP tersebut dapat memberi pemahaman akan pentingnya PBDT2015 untuk program perlindungan sosial yang akan diberikan oleh pemerintah. Penting juga untuk masyarakat ketahui alur program bantuan ini yaitu dari BPS ke TNP2K. Dalam hal ini peran serta pemerintah daerah untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat maupun di SKPDnya sendiri sangat diharapkan  sehingga ke depannya data PBDT2015 tidak akan ada masalah. Kita tunggu saja hasilnya.

Kamis, 06 Maret 2014

Ternyata...

Seperti biasa setiap hari jumat, jam kerja pegawai dimulai dari pukul 7.00 pagi. Dan pagi ini, seperti biasanya juga, saya bersiap-siap hendak ke kantor. Pagi ini saya memakai baju batik karena tidak ada kegiatan senam. Biasanya jumat pagi pegawai BPS bermain volley ball. Karena tidak bisa bermain volley makanya hampir setiap jumat pagi beberapa pegawai terutama yang perempuan tidak menggunakan seragam olahraga termasuk saya.  Sesekali saya melirik jam dinding. Masih pukul 6.40. Saya sedikit bergegas. Rutinitas berlama-lama di depan cermin saya persingkat. Lotion juga saya sapukan seadanya. Kecuali jilbab yang agak lama prosesnya karena harus benar-benar diperhatikan setiap detailnya. Mulai dari kemiringannya, kedua sisinya yang harus simetris, hingga bagian atas kepala yang harus rapi tidak boleh ada kerutan. Selesai dengan urusan jilbab, saya lalu merapikan tas ransel yang selalu setia menemani saya ke kantor. Tas ransel itu adalah tas kegiatan ST2013 yang dibagikan saat pelatihan bulan April 2013 yang lalu. Warnanya hijau, warna favorit saya. Bermerek pula. Mereknya BPS :D

Setelah semua persiapan selesai, sekali lagi saya melirik jam dinding. 6.50. Itu artinya 10 menit lagi pukul 7. Agak terburu-buru saya memakai kaos kaki, kemudian bergegas meraih kunci motor dan kunci kamar kost yang tergantung di dinding. Tas ransel saya sampirkan di pundak. Selesai mengunci pintu, saya langsung memakai sepatu yang memang sengaja saya taruh di luar untuk mempercepat gerakan. Kamar kost saya berada di lantai 2. Aktivitas naik turun tangga sudah tidak terasa melelahkan lagi seperti awal-awal pertama kali kost disini. Bahkan sekarang saya menikmatinya, menganggapnya sebagai kegiatan olahraga.

Tiba di bawah, saya langsung menyalakan motor. Butuh sekitar 3 menit untuk memanaskannya terlebih dulu sebelum siap dikendarai. 3 menit kemudian, saya pun meluncur ke kantor.   


Kompleks perkantoran disini terletak di atas gunung.  Ada 2 jalan menuju kantor. Satu jalan yang dekat, yang satunya lagi jalan yang jauh memutar. Jalan yang dekat ini yang paling sering dilalui. Saya pun melewati jalan ini. Tiba di jalanan yang menanjak, terlihat di kejauhan lautan di sisi kiri jalan dengan pulau berbentuk lonjong di tengahnya. Terdapat jurang kecil dengan pohon-pohon yang membatasi jalan dengan rumah-rumah penduduk dibawahnya. Berbelok ke kanan,  terlihat lautan yang membentang luas di sisi kanan bawah dan hamparan rumah-rumah penduduk di ujung barat dayanya. Sebagian lautan itu seperti dipagari oleh pulau dikejauhan. Sungguh pemandangan yang menawan hati. Bagi orang yang baru pertama kali datang kesitu, pasti akan takjub melihat pemandangan tersebut.  Saya pun demikian. Lautan yang membentang itu selalu menjadi obyek foto saya.

Arsitektur kantor saya berbeda dengan kantor lainnya di kompleks perkantoran ini. Kantor saya ‘penampakan’nya khas bangunan kantor BPS lainnya di seluruh Indonesia. Berbentuk kubus, berwarna putih abu-abu. Minimalis. Kantor saya berada di sisi kiri jalan. Letaknya pun lebih tinggi daripada kantor lainnya yang berjejer di kiri kanan sehingga kantor ini pun jadi terlihat seperti villa. Dari teras depannya, mata leluasa memandang. Lautan biru yang terbentang luas, pulau yang hijau berbentuk lonjong di sebelah selatannya, pulau-pulau di kejauhan yang terlihat samar di sebelah baratnya dan rumah-rumah penduduk di sebelah barat daya, serta pepohonan hijau yang rimbun yang membatasi pegunungan dan perkampungan di bawahnya. Sungguh menakjubkan! Betapa hebat arsitek alam yang mendesainnya. Subhanallah!

Tidak lebih dari 5 menit –karena agak dibalap- saya tiba di kantor. Di depan pagar kantor lebih tepatnya. Saya sedikit terkejut dan heran karena pagar itu masih digembok. Ada apa gerangan? Kemana semua orang? Pada telatkah bangunnya? Ini sudah hampir pukul 7! Mestinya pagarnya sudah dibuka dari tadi dan pegawai yang lainnya pun sudah berdatangan. Saya yakinkan lagi bahwa hari ini hari jumat, bukan kamis, apalagi sabtu. Tapi sungguh saya tidak menemukan alasan mengapa teman-teman saya belum pada datang dan OB kantor juga belum membuka pagar. Hmmm… saya melihat sekeliling. Sepi. Saya tidak terlalu heran dengan pegawai kantor lainnya kalau jam segini belum datang. Jadi saya merasa biasa saja. Karena pagar masih digembok, saya pacu motor saya pelan-pelan sambil melihat kantor-kantor lain. Wah, ternyata kantor lain yang bersebelahan dengan kantor saya pagarnya masih digembok juga. Saya terus melaju pelan-pelan. Semakin terheran-heran saya melihat kantor-kantor yang saya lewati lengang. Tidak ada satupun pegawai. Tidak ada aktifitas. Bahkan jalanan sepi. Ada dua kendaraan bermotor dari arah berlawanan tetapi pengendaranya tidak memakai baju batik atau seragam olahraga. Ada apa sebenarnya dengan hari ini?

Setelah yakin bahwa memang tidak ada aktifitas kantor alias libur yang entah disebabkan oleh apa, saya pun cepat-cepat memacu motor saya, khawatir ada yang memperhatikan. Saya bisa malu nanti. Saat itulah baru saya teringat… jangan-jangan hari ini hari raya Imlek! Saya hubung-hubungkan dengan status BBM teman-teman semalam dan display picture mereka yang ada simbol-simbol Imlek berikut tulisan Gong Xi Fa Cai. Saya teringat juga 2 hari sebelumnya teman saya menanyakan via BBM rencana weekend di tiga hari libur. Waktu itu saya bilang kerja, turun lapangan yang memang saya rencanakan sore ini menyeberang pulau ke tempat tugas. Ternyata hari ini hari libur! Hadeewh..!  
    
Sesampainya di kost, saya bergegas naik sebelum ada yang menyadari kehadiran pegawai teladan ini. Masih belum yakin kalau hari ini Imlek, yang pertama kali saya lakukan setelah membuka pintu adalah melihat kalender. Ternyata benar, hari ini hari raya Imlek! Oh My God… :D

Pelajaran berharga hari ini:
  •  Jangan lupa melihat kalender. 
  •  Kalau ada yang tanya soal rencana weekend, segera cocokkan dengan kalender.
  •  Kalau ada status BBM maupun display picture teman-teman  yang mengindikasikan hari libur, segera periksa kalender.
:D

Senin, 17 Februari 2014

Sepatu Para Pencacah

Secara administrasi, Kecamatan Banggai Tengah masuk dalam wilayah Kabupaten Banggai Laut. Namun dalam direktori BPS, kode Kabupaten untuk Banggai Laut belum ada sehingga semua Kecamatannya masih tercatat dalam wilayah Kabupaten Banggai Kepulauan. 


Untuk ST2013, Kecamatan Banggai Tengah mendapat jatah 2 tim. Masing-masing tim terdiri dari 4 orang dengan wilayah kerja masing-masing tim 4 desa. Total desa di Banggai Tengah ada 8 desa yang terbagi atas 18 blok sensus. 18 BS ini dibagi 2 menjadi 9 blok sensus untuk masing-masing tim.


Jika dilihat dari kekompakan tim, tim 2 lebih kompak dibanding tim 1. Ini dikarenakan wilayah tugas tim 1 di desa-desa bagian atas dan jauh. Rumah para petugasnya pun berjauhan. Sedangkan tim 2, desa-desa wilayah tugasnya di bagian bawah, desanya sambung-menyambung dan terletak di poros jalan. Rumah para petugasnya pun berdekatan. Ini juga memudahkan Kortim mengumpulkan petugas di pagi hari untuk briefing sebelum mencacah.  


Para petugas tim 2 ini sangat bersemangat dan benar-benar menghayati pekerjaan mereka sebagai pencacah. Sebelum pukul 07.00 pagi mereka sudah berkumpul di rumah Kortim lengkap dengan atribut pencacah dan memakai sepatu pula. Saya pernah mengatakan pada mereka sebaiknya tidak usah memakai sepatu karena kondisi cuaca yang sering hujan dan jalanan yang becek, kasian sepatunya nanti kotor dan cepat rusak. Tapi mereka malah menjawab, “Kami menghargai pekerjaan bu, karena menjadi petugas BPS tidak mudah. Banyak yang ingin, tapi hanya kami yang terpilih. Kami bangga menjadi petugas BPS…” Saya tersenyum mendengar itu. Kata mereka lagi, bentuk penghargaan dan rasa bangga menjadi bagian dari BPS adalah dengan memakai sepatu ketika mencacah. Wah, saya terharu. Cepat-cepat saya memalingkan wajah ke arah lain karena tiba-tiba saja mata saya jadi berkaca-kaca… 


Selama masa pencacahan berlangsung yang hampir sebulan lamanya, selama itu pula petugas saya memakai sepatu setiap kali mencacah. Tidak lupa dengan atribut lengkap ST2013. Bahkan petugas MK dari Kabupaten yang melakukan monitoring di wilayah kerja tim 2 –ketika saya tanyakan mengenai petugas yang bersepatu, hanya untuk meyakinkan saja apa benar mereka memang bersepatu setiap kali mencacah- mengakui bahwa memang petugasnya bersepatu. Padahal ketika MK datang kesitu, hari sudah senja, menjelang magrib. Saya sendiri tidak tau kalau petugas MK akan turun hari itu di Kecamatan Banggai Tengah. Hari itu saya sedang sakit flu sehingga tidak sempat turun lapangan dan tidak sempat pula menginformasikan ke petugas tim 2 akan adanya tim MK. Alhamdulillah penilaian dari tim MK untuk petugas memuaskan. :)
 

Bukan hanya soal sepatu yang membuat saya salut dengan tim 2 ini. Soal kedisiplinan  juga. Saya pernah datang ke rumah Kortim pukul 7.00 pagi, berharap bisa menghadiri briefing mereka. Begitu sampai di rumah Kortim, tidak ada satupun petugas. Istri Kortim mengatakan baru saja mereka selesai briefing dan langsung menuju rumah responden yang sudah menjadi target masing-masing. Saya terlambat!


Seperti umumnya di pedesaan, masyarakat yang berkebun kerap menginap di kebun hingga berhari-hari. Jika sedang berada di kampung, maka mereka berangkat ke kebun pagi sekali. Pukul 07.00 pagi jangan harap masih bisa bertemu dengan mereka. Sekali pergi bisa berhari-hari di kebun karena kebunnya jauh dan tidak efisien untuk bolak-balik setiap harinya. Petugas tim 2, berdasarkan instruksi Kortim, sudah menunggu di depan pintu rumah responden jam 5 subuh, dengan maksud begitu respondennya membuka pintu untuk keluar rumah, langsung dicegat dan didata terlebih dahulu. Jika tidak begitu maka akan susah menemui responden tersebut. Bayangkan saja, jam 5 subuh! Tapi mereka tetap bersemangat... mereka sadar akan tanggung-jawab sebagai pencacah dan selalu mematuhi Kortim. 


Saking semangatnya, pencacah 3 mengunjungi rumah pencacah 1 untuk dimutakhirkan berhubung rumah pencacah 1 berada dalam blok sensus yang merupakan wilayah tugas pencacah 3. Sementara itu pencacah 1 sedang memutakhirkan blok sensus lain yang menjadi wilayah tugasnya sehingga ketika pencacah 3 mengunjungi rumahnya, pencacah tersebut hanya bertemu dengan istri pencacah 1. Istrinya lalu mengatakan kenapa tidak tanyakan langsung pada suaminya saja, kan tiap hari juga bertemu di rumah Kortim?… :D


Saya teringat ketika pertama kali saya membagikan uang transport. Uang transport tersebut diberikan dalam 2 tahap. Tahap 1 untuk 16 hari pertama dan tahap kedua untuk 16 hari berikutnya. Waktu itu saya mengumpulkan tim 1 dan tim 2 di rumah Kortim 2. Salah seorang petugas dari tim 2 langsung berkomentar setelah uang transportnya saya berikan, “Ini enaknya jadi mitra BPS, belum kerja sudah dibayar…” Disambung komentar petugas lain, “Dan tidak dipotong honornya…” Kamipun tertawa. Hmmm… Cuma BPS yang bisa begitu. 


Cuaca memang kurang bersahabat pada bulan Mei. Hampir setiap hari hujan. Tetapi hal itu tidak menyurutkan semangat tim 2. Dengan semangat mereka berkata, “Cuaca tidak boleh dijadikan halangan bu, begitu yang disampaikan oleh ibu Kepala BPS waktu kita pembukaan pelatihan.” Saya agak terkejut mendengar itu. Tidak menyangka petugas ini masih ingat apa yang disampaikan oleh KBPS Bangkep waktu pembukaan pelatihan petugas. Saya sendiri tidak ikut hadir di TC yang dibuka oleh KBPS karena saya sedang bertugas sebagai MC di TC lain yang dibuka oleh Kabid IPDS Propinsi Sulteng. 


Jika mereka ditanya oleh responden: “Petugas dari mana?” Mereka tidak langsung menjawab, hanya memperlihatkan ID card dimana tertera nama mereka berikut nomor pencacah dan ada logo BPSnya. Wah, mereka benar-benar bangga bisa terlibat dalam kegiatan BPS. 


 Demikianlah sekilas mengenai dedikasi para pencacah ST2013 di Kecamatan Banggai Tengah, yang meskipun hari hujan tetap bersepatu serta rela menahan kantuk dan mencacah di subuh hari demi mendapatkan data dari responden. Walaupun mereka hanya mitra, tetapi loyalitas dan semangat bekerjanya tidak kalah dengan pegawai BPS.



Tulisan ini diikutkan dalam lomba menulis dalam rangka Hari Statistik Tahun 2013
Ditulis oleh Nurfiani Ampen, S.E., KSK Kec. Banggai Tengah

Senin, 06 Januari 2014

Resolusiku di Tahun 2014


Tahun sudah berganti. 2013 sudah terlewati dengan berbagai kenangan. Ada yang indah, ada yang biasa-biasa saja, bahkan ada yang tidak menyenangkan. Yang patut disyukuri pada hari ini adalah Allah masih memberi kesempatan untuk menambah catatan amal baik kita.

Masih teringat desember 2012 yang lalu saya menuliskan beberapa keinginan yang ingin saya wujudkan di tahun 2013. Dan desember 2013 yang baru saja berlalu, saya menuliskan lagi beberapa keinginan yang saya sebut ‘resolusi’ untuk saya wujudkan di tahun 2014.

Kenapa resolusi? 

Ada banyak keinginan sebenarnya yang tidak terwujud di tahun 2013, dan tahun ini saya masukkan lagi ke dalam ‘target’ yang harus saya capai tahun ini. Oleh karena ada beberapa keinginan lama yang belum terealisasi dan ingin direalisasikan tahun ini makanya saya menyebutnya resolusi. Hmm.. mudah-mudahan saja bukan sekedar resolusi yang tak pernah dilaksanakan :)

Resolusi saya di tahun ini:

1.    Bisa hafal juz 30 dan 29 dalam Al-qur’an (selama ini juz 30 tidak pernah selesai dihafal)
2.    Tilawah 1 juz/hari (selama ini tilawah kurang dari 1 juz/hari, jadi tahun 2014 ingin ditingkatkan)
3.    Solat dhuha setiap hari (Alhamdulillah yang ini rutin, walaupun kadang tidak sempat karena sedang dalam perjalanan atau turun lapangan)
4.    Solat tahadjud setiap hari (yang ini sering terabaikan, diusahakan tahun ini bisa setiap hari)
5.    Shaum sunnah (ini juga tidak rutin. In sya Allah tahun ini ingin dirutinkan)
6.    Membaca buku setiap hari minimal 30 menit sehari (buku-buku yang tidak pernah habis dibaca bahkan yang masih bersampul plastik kian hari kian bertumpuk. Tidak ada lagi alasan tidak punya waktu membaca. Kalo tak punya waktu kenapa beli buku? Hehe.. Mulai sekarang harus meluangkan waktu)
7.    Menulis setiap hari (kalo yang ini penting sekali. Saya ingin menjadi penulis jadi sudah semestinya harus menulis setiap hari untuk membiasakan diri. Karena sesuatu kalo tidak dilatih tidak akan pernah bisa dikuasai. Tidak ada lagi alasan sibuk dan tidak punya waktu menulis, walaupun hanya 1 paragraf setiap hari.)
8.    Bisa berenang (berhubung saya tinggal di pulau dan kebanyakan kerjaan saya harus menyeberang pulau, jadi berenang itu wajib bisa. Buat jaga-jaga saja sih.. in sya Allah aman-aman saja diperjalanan. Sudah hampir 3 tahun disini masih belum juga bisa berenang. Hmm...)
9.    Nikah (OMG… dari tahun kemarin keinginannya ini juga..hehe.. in sya Allah tahun ini bisa terealisasi. Aamiin..)
10.  Bermanfaat bagi sesama (coz I want to be a good person. “Sebaik-baik manusia adalah yang bisa  bermanfaat bagi sesamanya” (Al-hadits))

Itulah resolusi saya tahun ini. Kalaupun nantinya tidak bisa terwujud 100%, minimal saya sudah melakukan perubahan besar dalam diri saya, yaitu melakukan yang sudah saya ikrarkan untuk dilakukan di tahun ini. Harapannya resolusi ini bisa saya laksanakan semua. Mudah-mudahan tidak banyak halangan dan godaan, terutama godaan tidur! Hehehe..

Semangat untuk resolusi!

Minggu, 05 Januari 2014

MDT, Timbunan dan Resolusi

 Sepekan yang lalu saya dan teman-teman liqo mendiskusikan tentang apa yang akan kami lakukan di tahun 2014 yang bisa menambah ghiroh  dan mempererat ukhuwah di antara kami. Tercetuslah ide untuk murajaah setiap sore. Hari itu juga selepas liqo, kami memulai hari pertama murajaah di pantai Salakan yang oleh penduduk setempat disebut Timbunan karena areal tersebut merupakan pantai yang ditimbun. Luasnya kurang lebih 1 hektar. Setiap sore banyak orang yang datang kesana. Sering sepulang kantor saya dan seorang teman kantor yang kebetulan akhwat juga ke timbunan, sekedar untuk menikmati sunset -yang walaupun tidak sempurna karena terhalang gunung di kejauhan namun tetap indah- sambil makan pisang goreng yang dibeli diperjalanan ke timbunan. Sunset dan awan senja hari selalu saja memukau. Wana-warninya membuat mata betah berlama-lama memandang. Sambil tak lupa memuji Allah Sang Kreator, Sang Pelukis Alam. Berbagai aktifitas sore hari terlihat di timbunan. Ada yang memancing ikan, ada juga yang hanya menikmati sore sambil bercengkerama dengan keluarga maupun teman-teman. 

Karena tempat yang kami pilih untuk murajaah hari pertama adalah di timbunan, tercetus lagi ide dari seorang akhwat untuk menamakan grup kami ini dengan ‘MDT’ yang merupakan singkatan Murajaah di Timbunan. Hahaha… nama grup yang lucu.

Alhamdulillah hari pertama murajaah berjalan lancar. Kami murajaah bersama Surah An-Naba. Kemudian satu persatu murajaah Surah tersebut sambil yang lainnya mencocokkan bacaan.

Hingga saat ini MDT Alhamdulillah masih solid, masih rajin ke timbunan saban sore. Tetapi tentu saja tempat untuk murajaah tidak hanya di timbunan, dimana saja boleh. Dan jika jenuh murajaah terus, bisa diganti dengan tilawah. Menyadari hal ini, kepanjangan MDT pun direvisi menjadi Murajaah dan Tilawah :D

Seiring berlalunya tahun 2013, komunitas MDT membuat resolusi untuk tahun 2014. Masing-masing mengikrarkan resolusinya dan diamini oleh yang lain. Kamipun janjian untuk bertemu di timbunan. 

Tanggal 01 Januari 2014 pukul 8 pm, ba’da isya, kami berkumpul di timbunan untuk menyatakan ikrar kami di tahun 2014. Agar lebih afdol, ikrar tersebut kami rekam. Satu-persatu membacakan ikrarnya kemudian yang lain mengamini. Bergiliran hingga selesai. Beberapa kali terjadi pengulangan karena awal-awalnya agak lucu, jadi baca ikrarnya sambil menahan tawa. Ada juga yang lupa ikrarnya jadi diulangi lagi. Sampai akhirnya rekamannya bagus. Hmm… kayak mau rekaman di studio saja pake diulang-ulang :D

Resolusi… boleh jadi adalah sesuatu yang sangat diinginkan untuk direalisasikan. Sebuah perubahan, gebrakan, semangat baru untuk mewujudkan apa yang tidak sempat terwujud di tahun sebelumnya. Saya dan teman-teman di komunitas MDT berharap resolusi kami dapat tercapai. Ada beberapa resolusi yang sama-sama ingin kami lakukan, yaitu: Menghapal 2 juz (juz 30 dan 29), tilawah setiap hari minimal 1 juz, tahadjud dan dhuha setiap hari, shaum sunnah rutin. Tidak muluk-muluk sebetulnya, standar saja karena bukan merupakan hal baru. Ini biasa kami lakukan hanya saja sebelum-sebelumnya tidak rutin. Di tahun 2014 ini kami ingin merutinkan hal-hal tersebut. In sya Allah kami bisa.

Ada 1 lagi yang sama yaitu…. Nikah! Ternyata semua pengen nikah tahun ini…hehehe.

Semoga semua resolusi yang sudah kami ikrarkan di timbunan, di ijabah oleh Allah SWT dan dimudahkan utk mewujudkannya. Aamiin…

Jumat, 17 Mei 2013

Jurnal Sensus Pertanian 2013 (part 2)

·         29 April 2013

Paginya, petugas melakukan penelusuran peta dan uji coba kuesioner. Khusus untuk uji coba kuesioner, itu adalah inisiatif para petugas sendiri karena menurut mereka dulu waktu pencacahan Sensus Penduduk 2010 (SP2010) ada praktek lapangan, jadi mereka ingin praktek lapangan juga untuk ST2013. Kebetulan beberapa petugas yang saya rekrut adalah yang sudah pernah menjadi mitra BPS untuk SP2010. Salut untuk petugas ST2013 Banggai Tengah!


Di BPS, setiap kali ada sensus, para Camat dan Kades juga diberikan honor. Hari itu saya langsung mengantarkan honor untuk para Kades di Banggai Tengah. Sebenarnya sekalian dengan honor Camat juga tapi berhubung Camatnya masih berhalangan hadir karena baru saja selesai menikahkan anaknya, jadi honor Camat tertunda diberikan.

Selesailah tugas pada hari itu dan saatnya kembali ke Salakan untuk prepare, karena besoknya harus ke Banggai lagi.


·         30 April 2013

Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu tiba juga. KSK diharuskan stay  di wilayah tugas selama ST2013 yaitu sejak tanggal 1-31 Mei 2013. Sebulan! Plus beberapa hari di awal Juni karena rapat tim terakhir pada tanggal 1 Juni 2013. Hehehe… 

Paginya setelah prepare, saya langsung mencari ojek ke pelabuhan Tobing. Karena akan stay selama sebulan di Banggai jadi saya membawa banyak pakaian plus barang-barang yang pastinya akan saya butuhkan disana. Saya sengaja meninggalkan motor operasional di Banggai dan kembali ke Salakan dengan ojek, karena banyak barang yang akan saya bawa. Kalau bawa motor sendiri saya khawatir tidak bisa bawa banyak barang. Setelah mengambil dokumen Sakernas di kantor, saya langsung berangkat ke pelabuhan Tobing.

Tiba di Banggai saya langsung mencari kost/penginapan yang bisa di kontrak untuk 1 bulan. Ini demi kelancaran tugas saya selama ST2013. Saya merasa tidak enak hati kalau stay di rumah teman selama sebulan, karena tugas lapangan ini mengharuskan saya lebih sering di luar rumah, bahkan terkadang sampai malam. Belum lagi saya butuh ruangan untuk menyimpan dokumen dan memeriksanya. Orang awam yang tidak tahu kegiatan BPS pasti akan susah mengerti pola kerja yang seperti itu. Jadi untuk aman dan nyamannya, saya memutuskan untuk mencari tempat tinggal sementara yang bisa dikontrak selama sebulan. Dan Alhamdulillah, saya menemukan penginapan baru yang belum lama beroperasi. Ownernya setuju untuk mengontrakkan kamar selama sebulan. Yang pasti biaya sewanya tidak sampai merobek kantong, apalagi untuk ST2013 KSK hanya dapat uang transport, selebihnya adalah uang gaji yang masuk di rekening setiap bulan..hehehe.. Tapi tak apalah, demi BPS dan ST2013. Salam PIA! :)
   

·         1 Mei 2013

Hari ini adalah hari pertama pencacahan Sensus Pertanian 2013 yang dilaksanakan serentak di seluruh wilayah Republik Indonesia. Kortim dan PCL sudah berkumpul di rumah Kortim sejak pukul 06.45 am untuk briefing sebelum memulai turun lapangan. Sekitar setengah jam kemudian PCL mulai bergerak ke wilayah tugasnya masing-masing. Kortim bertugas mendampingi PCL pertama. Kemudian setelah PCL pertama selesai mencacah 1 rumah tangga (ruta), Kortim mendampingi PCL kedua. Setelah PCL kedua selesai mencacah 1 ruta, Kortim mendampingi PCL ketiga. Setelah PCL ketiga selesai, Kortim kembali mendampingi PCL pertama. Begitu seterusnya. Pendampingan ini gunanya agar jika terjadi kesalahan pada pendataan di ruta pertama PCL langsung tau karena langsung dikoreksi oleh Kortim. Nantinya di ruta kedua dan seterusnya tidak akan salah lagi. 

Sebenarnya pendampingan ini digilir perhari. Misalnya hari ini Kortim mendampingi PCL pertama, besoknya PCL kedua, lusanya PCL ketiga. Tapi karena ini adalah hari pertama, saya tidak mau ada kesalahan pencacahan yang dilakukan oleh PCL. Karena jika salah dari awal maka selanjutnya bisa salah terus. Sebaiknya pendampingan pada hari pertama PCL didampingi secara intens oleh Kortim. Besoknya dan seterusnya barulah Kortim mendampingi satu-persatu PCL sesuai SOP ST2013.

Hari pertama ini diwarnai hujan deras. Saya pun sedikit tertunda melakukan pengawasan di lapangan. Setelah hujan reda barulah saya mulai pengawasan. Pengawasan yang pertama kali saya lakukan adalah di tim 2. Saya memantau langsung Kortim mendampingi pencacah di salah satu ruta di desa Mominit.

Sorenya saya ke rumah Camat untuk memberikan honornya. Pak Camat senang, saya pun senang :)

Malamnya, pukul 8.00 pm, saya beserta tim mengadakan evaluasi hasil pemutakhiran hari pertama. Kami membahas beberapa permasalahan yang terjadi selama pencacahan seharian tadi.

·         2 Mei 2013

Tim 2 briefing di rumah kortim sebelum berangkat mencacah pada pukul 7.00 am. Kebetulan desa-desa di wilayah tugas tim 2 berdekatan, bagitu juga rumah-rumah petugasnya sehingga mereka bisa briefing setiap pagi sebelum turun mencacah. Sebaliknya tim 1 agak susah untuk briefing pagi-pagi karena desa-desa wilayah tugasnya berjauhan begitu pula rumah-rumah petugasnya. Jadi mereka putuskan untuk langsung ke lapangan. Sore hari menjelang magrib baru mereka briefing persiapan pencacahan besok paginya.

Hari itu Alhamdulillah hujan tidak turun pagi-pagi, jadi saya pun bisa mengawas lebih pagi. Barulah siang harinya turun hujan.

Ternyata tanggal 2 Mei Hardiknas! Saya hampir lupa…hehehe..

Setelah mengikuti briefing Tim 2, saya bertemu Camat di SD desa Adean. Beliau baru saja selesai mengikuti upacara Hardiknas yang dipusatkan di SD tersebut. Desa Adean adalah ibukota Kec. Banggai Tengah. Pak Camat yang saat itu menggunakan setelan Korpri, saya minta kesediaannya untuk mengunjungi salah satu ruta yang akan dicacah oleh petugas ST2013. Alhamdulillah beliau dengan senang hati bersedia memenuhi permintaan saya. Karena mencacah harus menggunakan atribut lengkap, maka pak Camat pun saya berikan rompi dan topi ST2013 untuk dipakai saat mencacah. Pak Camat memakainya. Jadilah baju Korpri dibalut rompi ST2013… hehehe…

Setelah lengkap dengan atribut, Pak Camat pun ikut bersama kami menyaksikan proses pemutakhiran di salah satu ruta di desa Adean.

Setelah cukup pengawasan di tim 2, saya langsung menuju desa Gonggong untuk melakukan pengawasan di tim 1.

(bersambung)