Tampilkan postingan dengan label Kisah-kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah-kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 November 2016

Untukmu Sahabat

Sahabat, ingatkah kau?

Kali pertama kita bertemu di tahun ajaran baru perkuliahan, status kita masih maba (mahasiswa baru). Saat itu kita sedang ramai di BAK fakultas kita -entah untuk urusan apa, mungkin menyetor KRS (kartu rencana studi),  yang jelas hari itu semua maba jadi tau nomor stambuknya. Kebanyakan kita belum saling mengenal, kecuali sebagian teman yang kebetulan berasal dari SMA yang sama atau dari lingkungan tempat tinggal yang sama. Begitupun kita. Ada hal menarik di hari itu yang ternyata menjadi perhatianmu  -dan di kemudian hari kau menceritakannya padaku- yaitu bahwa nomor stambuk kita berurutan. Aku 050 dan kau 051. Kau menyadari itu. Ketika kemudian nama-nama kita dipanggil beserta nomor stambuk oleh pegawai BAK, dan tiba giliranku, kau berkata dalam hati, “Oh ini yang nomor stambuknya 050.” Dari situ kau mulai mengenalku walau baru sebatas rupa dan nama, sedang aku belum lagi mengenalmu. Mungkin karena sifatmu yang ceria dan supel, kau bisa dengan mudah mengenali orang. Sementara aku yang cenderung kalem dan pragmatis, tidak demikian. Waktu itu angkatan kita masih menerapkan penataran P4 secara random. Aku penataran di fakultas kita sedang dirimu di fakultas ISIP. Saat opspek semua maba dikembailkan ke fakultasnya masing-masing. Saat itulah aku mulai mengenali wajah sebagian teman-teman maba termasuk dirimu, mungkin karena sifatmu yang ceria itu tadi sehingga mudah dikenali, tapi namamu sama sekali belum aku tau.

Tibalah saatnya kita mengikuti perkuliahan perdana. Teman-teman mulai berkenalan. Yang duduknya berdekatan mulai saling bertegur sapa. Termasuk kita berdua tentu saja.

Awal-awal perkuliahan itu kita belumlah menjadi teman akrab. Sebatas sering berkumpul bersama dengan teman- teman lain saja. Aku justru akrab dengan beberapa  teman lain dan akhirnya kami menjadi geng yang kemana-mana selalu bersama. Sementara dirimu akrab dengan siapa saja tanpa memilih-milih teman. Kau bisa masuk di geng mana saja dan bisa membawa diri dengan baik. Sering saat aku dan gengku berkumpul kaupun juga ikut bergabung bersama kami dan meramaikan suasana dengan keceriaanmu. Dan dimana saja ada dirimu, pasti kami semua terbawa suasana ceria penuh canda tawa. Kau pandai meramu suasana menjadi gembira dengan cerita dan tingkahmu yang kocak. Banyak pengalaman konyolmu yang kau bagi saat kita bersama dan membuat kami semua tertawa.

Menjadi mahasiswa memang menyenangkan. Banyak hal-hal yang tidak kita temukan saat sekolah, tetapi di perguruan tinggi bisa kita dapatkan. Salah satunya kebebasan. Bebas memilih mata kuliah, bebas memilih mau masuk kelas atau tidak (konsekuensinya kehadiran tidak boleh di bawah 75 persen untuk bisa mengikuti ujian), termasuk bebas memilih eksul yang diminati. Di kampus kita, senior-senior mulai sibuk mengiklankan ekskul mereka kepada mahasiswa baru. Dari ngobrol-ngobrol denganmu seputar ekskul, kita berdua ternyata memiliki minat yang sama, yaitu ingin menjadi mahasiswa pencinta alam (Mapala). Waktu itu yang terlintas di benak kita adalah betapa menyenangkannya bisa menikmati keindahan alam.

Proses untuk menjadi mapala pun kita lalui bersama. Ada seorang teman gengku yang juga berminat masuk mapala, jadilah kita bertiga mendaftarkan diri. Mulai dari mengisi formulir, mengikuti materi kelas hingga pendidikan dasar (diksar) di alam bebas. Oh ya, sewaktu pertama kali kita dikumpulkan oleh senior mapala, ternyata angkatan diksar kita ada 12 orang yang terdiri dari 4 perempuan dan 8 laki-laki. Kita semua berkenalan. Yang seangkatan kuliah kita ada 5 orang, sedang yang 7 orang lagi senior. Kita berempat perempuan adalah teman seangkatan hanya saja yang seorang lagi berbeda jurusan. Sejak saat itu kita berempat menjadi teman akrab. Sayangnya, teman gengku itu pindah kuliah kembali ke kotanya. Tinggallah kita bertiga yang langsung menjadi sahabat, kemana-mana selalu bersama. Walaupun aku masih sering berkumpul bersama gengku, tapi waktu untuk kita bertiga berkumpul pun selalu ada. Entah itu di camp (sekretariat mapala) ataupun di rumah salah seorang dari kita. Paling seringnya kita kumpul di rumah A, karena dia memiliki 3 orang saudara yang semuanya perempuan hampir seumuran dengan kita, bahkan 2 orang saudaranya pun anak mapala. Orangtuanya sudah terbiasa dengan aktifitas anak-anaknya, sehingga kita lebih nyaman berkumpul di rumahnya bahkan sampai menginap.

Sahabat, ingatkah kau?

Ada cerita lucu sewaktu diksar. Waktu itu kita sedang mengikuti materi lapangan. Salah seorang senior kita mengajarkan materi ormed (orientasi medan). Setelah selesai materi, satu-persatu kita ditanyai mengenai materi yang baru saja dberikan. Dari seluruh peserta diksar, hampir semua bisa menjawab pertanyaan yang diajukan, kecuali dirimu. Padahal pertanyaan tersebut tidaklah sulit, mungkin pengaruh udara yang sangat dingin di shelter 2 waktu itu sampai jawabanmu tidak benar. Berulangkali ditanya, jawabanmu tetap salah. Teman-teman lain berusaha membantu tapi kau tetap tak mengerti. Dan akhirnya kaupun menyerah. Dengan wajah yang innocent kaupun menjawab, “saya tidak tau kak.” Kontan saja senior-senior yang ada disitu pun tertawa melihat mimikmu saat mengatakan itu. Kami peserta diksar hanya bisa tersenyum karena takut dihukum. Tapi akibat kau tak bisa menjawab, kita semua terkena hukuman (hukumannya bersifat kolektif). Kita dihukum 1 seri (set) yang terdiri dari push up 10 kali, scuat jump 10 kali dan sit up 10 kali. Kadang-kadang kalau ada yang buat salah lagi, senior tidak segan-segan memberi hukuman 3 seri. Berarti kelipatan 3 dari 1 seri. Tentu saja kita tidak sanggup menyelesaikan semua serinya, maka dari itu kita berutang seri yang harus “dibayar” kapanpun senior memintanya. Kita semua akhirnya berhasil menyelesaikan diksar dan memperoleh slayer abu-abu.

Kemudian kita bersama-sama mengikuti Wajib Daki untuk pengambilan slayer kuning (syarat untuk menjadi anggota penuh). Waktu itu yang tersisa tinggal 7 orang, yang 5 lainnya sudah tereliminasi di diksar. Kata orang, jika ingin mengetahui sifat asli seseorang, ajaklah dia naik gunung. Ada benarnya juga, karena dingin yang menusuk sampai ke tulang, belum lagi kelelahan dalam perjalanan mendaki, belum lagi rasa lapar yang mendera, kadang membuat seseorang tidak bisa menahan egonya. Saat itu hari sudah senja ketika kita sampai di padang edelweis. Para senior sudah menunggu. Kita semua langsung dihukum 1 seri karena telat sampai. Tidak tanggung-tangung hukumannya, disuruh berendam di sungai. Tau sendiri kan air sungai di atas gunung dinginnya na’udzubillah. Kalau saja bukan karena Wajib Daki mana mau aku disuruh berendam. Sedangkan mendaki gunung untuk fun saja aku hanya mampu cuci muka dan sikat gigi. Berwudhu pun aku hanya mampu mengusap bukan membasuh, itupun hanya sekali untuk setiap anggota tubuh yang wajib terkena air wudhu (karena yang wajib hanya sekali) saking dinginnya. Tapi begitulah, semua prosesnya harus dijalani jika ingin menjadi anggota penuh. Sekira 15 menit direndam, kita lalu disuruh mendirikan bivak masing-masing tanpa boleh ganti baju alias masih dengan baju basah. Kita segera mencari lokasi masing-masing yang dirasa cocok untuk mendirikan bivak. Aku menemukan lokasi yang aku rasa cocok karena ada 1 pohon dan ilalang-ilalang disekitarnya. Tinggal mencari kayu panjang untuk dijadikan tonggak agar bivaknya bisa berdiri. Setelah mendapatkan empat potong kayu akupun kembali ke tempat yang aku rencanakan untuk bivak. Tapi betapa terkejutnya aku ketika melihat kau sedang sibuk mendirikan bivakmu di situ. Padahal aku sudah lebih dulu meng-kapling tempat itu, dan kau tau itu, sebab aku mengumumkannya dan aku pastikan terdengar oleh teman-teman peserta Wajib Daki yang lain. Aku protes, tapi kau tak menggubris. Alasanmu kau menganggap tempat itu kosong jadi kau putuskan untuk memakainya. Tentu saja kosong, kataku, karena aku masih mencari kayu untuk tonggak. Kita sempat adu mulut saat itu tapi akhirnya aku mengalah. Aku tidak jadi mendirikan bivak karena hari sudah mulai gelap dan aku tidak menemukan lokasi yang dekat dengan teman-teman yang lain. Aku tidak mau mendirikan bivak di tempat yang lebih jauh. Untungnya senior-senior mengerti. Malamnya, kita tidur dalam 1 bivak yaitu di bivak A karena hujan, dan bivakmu terlalu kecil sehingga kecipratan air hujan. Kita bertiga tidur bersempit-sempit sambil menggigil karena tidur dengan baju basah.

Sejak mulai diksar di gunung N hingga Daki Wajib di gunung R tepatnya di padang edelweis, kau selalu menjadi favorit senior-senior. Mereka suka mengganggumu hanya agar mereka bisa tertawa. Kau selalu bisa membuat kami semua  tertawa walaupun tanpa kau sadari. Oh ya, sahabat kita A dulu sewaktu SMA sudah aktif di ekskul pencinta alam, jadi dia sudah berpengalaman di alam bebas. Dia lebih tangkas dan lebih gesit daripada kita berdua. Tapi dibandingkan kalian berdua, akulah yang paling lemah secara fisik. Tubuhku kurus. Berat badanku waktu itu kisaran 38-39 kg. Berat badan A kalo aku taksir mungkin saat itu 43 atau 44 kg. Dan kau, badanmu lebih berisi, mungkin kisaran 46 atau 47 kg.Singkat cerita, akhirnya kita bertujuh resmi menjadi anggota penuh.

Sahabat, ingatkah kau?

Kejadian perebutan tempat bivak itu adalah yang pertama kalinya kita berselisih. Tapi setiap kali terjadi perselisihan, kita selalu saling memaafkan dan tidak sedikitpun mengurangi persahabatan kita. Justru perbedaan itulah yang membuat kita unik. Kita bertiga memiliki karakter yang berbeda. A adalah seorang yang cerdas, mandiri (selalu berusaha menyelesaikan permasalahan atau pekerjaan seorang diri dan tidak mau dibantu), sebaliknya suka membantu orang lain menyelesaikan masalahnya. Lebih bisa berpikir jernih dalam memutuskan sesuatu, tapi cenderung ceroboh dalam melakukan sesuatu. Dia juga panikan dan kerasa kepala. Dan khususnya untuk  masalah “hati” dia cenderung tertutup. Meskipun begitu, dia sangat care dan senang menolong teman. Jika ada yang butuh pertolongan dialah yang lebih dulu menawarkan. Dia selalu berusaha menyenangkan orang lain. Kau sendiri adalah seorang yang agak sulit dimengerti. Kau agak cerewet dan keras kepala. Cenderung tidak peduli hal-hal kecil. Meskipun begitu keceriaanmu membuat hadirmu selalu dirindukan. Kau juga mandiri (ini karena kau tinggal di rumah nenekmu, sebab orangtuamu jauh). Kau pintar masak, pandai mengurus rumah dan pandai mengurus anak. Tantemu punya 3 orang anak yang sejak mereka kecil kau yang mengurus. Kau juga punya saudara-saudara kandung dan saudara-saudara sepupu yang selalu mengandalkanmu untuk mengurus mereka. Kau sangat keibuan di rumah, sebaliknya di luar rumah kau begitu tegar dan kuat bagai batu karang. Tinggal jauh dari orangtua sejak SMA membuatmu lebih cepat dewasa. Tentunya berbeda dengan kami  berdua yang tinggal dengan orangtua, beban hidup tidaklah seberat dirimu. Tapi kau mampu menutupinya dengan keceriaan dan kerianganmu. Jika ada orang yang hanya mengenalmu sekilas, pasti mereka akan berpikir bahwa kau tidak punya beban hidup. Itu karena kau selalu ceria. Menurutku kau hebat dalam hal-hal tertentu yang aku maupun A tidak bisa melakukannya. Mengenai diriku (aku hanya mendengar dari kalian berdua dan dari orang-orang terdekat), pembawaanku kalem, lembut, suka mengalah, sensitif, sangat detail, dan perfeksionis. Nah, berbeda sekali bukan? Kesamaan kita bertiga adalah kita supel, mudah bergaul dengan siapa saja. Sehingga tidak heran kita bertiga begitu dikenal (mungkin karena perempuan yang bergabung di mapala sangat sedikit sehingga mudah dikenali) hingga ke fakultas lain, bahkan ke kampus lain. Oh ya, kita bertiga punya julukan ‘3 rembulan’. Entah siapa yang memulai memberi julukan itu, dan itu melekat hingga sekarang.

Sahabat, ingatkah kau?

Kita bertiga punya ritual, siapa yang berulang tahun harus menraktir, dan yang tidak berulang tahun harus memberi kado. Setiap tahun selama kuliah kita melakukan itu. Kadang-kadang tanpa kado karena maklum saja masih mahasiswa. Kadang-kadang pula traktirannya hanya berupa pisang goreng yang kita nikmati bersama di senja hari di tepi pantai sambl memandangi ombak yang berdebur. Oh ya, kita bertiga juga suka pantai, khususnya aku dan A. Kau sudah terbiasa dengan pantai karena rumah orangtuamu di kampung letaknya dekat dengan pantai. Kau bahkan pandai berenang, sementara aku dan A tidak bisa.

Kadang kalau aku dan A ke rumahmu, kami mendapati kau sedang memasak. Kita lalu makan bersama. Masakanmu enak, kami menyukainya. Kau juga tau sambal kesukaanku dan kau selalu membuatkannya untukku setiap kali aku ke rumahmu. Kadang pula jika kau pulang kampung, aku selalu menitip dibuatkan kue bingka. Ibumu paling jago membuat bingka, apalagi kalau dicampur durian, enak sekali. Dan kau selalu membawakannya untukku. Untuk masalah “hati” pun kita lebih sering bercerita (curhat) berdua ketimbang dengan A. Kau lebih terbuka menceritakan hubunganmu dengan lawan jenis kepadaku, begitupun aku. Sedangkan A, karena dia lebih tertutup untuk hal-hal seperti itu, kitapun jadi agak malu untuk terbuka padanya. A teman yang asyik untuk curhat sebenarnya, karena dia selalu bisa memberikan solusi yang menenangkan. Untuk masalah-masalah yang lain, tempat curhat kita adalah A.

Kadang jika sedang diskusi dengan teman-teman di camp, kalian berdua paling gigih mempertahankan pendapat masaing-masing, tidak ada yang mau mengalah. Itu karena kalian berdua sama-sama keras kepala. Kadang pula kita bertiga sependapat dalam 1 hal, lalu saling mendukung mempertahankan pendapat. Teman-teman diskusi kita sampai kewalahan berdebat dengan kita. Ah, benar-benar seru masa-masa kuliah kita dulu.  

Sahabat, ingatkah kau?

Suatu kali kita pernah pergi mendaki gunung bersama ke padang edelweis. Tujuan sebenarnya adalah ke danau yang terletak di atas gunung itu. Jalur untuk kesana melewati padang edelweis. Waktu itu kalau tidak salah kita ada 10 orang. Perempuan 4 orang; aku, kau, dan yang 2 lagi junior kita. Kita mendirikan tenda di padang edelweis. Esoknya, pagi-pagi setelah sarapan, perjalanan menuju danau pun dimulai. Rencananya siang hari ketika balik dari danau kita langsung berangkat pulang. Kau dan 1 orang junior kita yang perempuan tidak ikut. Kalian berdua mengajukan diri menjaga tenda. Sungguh disayangkan sebenarnya, karena jauh-jauh kesana tapi tidak terus sampai ke danau. Padahal danau tersebut belum begitu dikenal orang. Untuk sampai kesana pun medannya cukup sulit, harus membuka jalur baru, sampai-sampai kita harus memasang string line agar tidak tersesat di perjalanan pulang. Tapi kau tetap pada keputusanmu. Akhirnya kami berdelapan pun berangkat dengan tidak lupa membuat kesepakatan untuk tidak memetik edelweis karena bunga itu sudah mulai langka. Setelah melalui perjalanan yang cukup sulit akhirnya kami menemukan danau tersebut. Saat itu siang hari dan panasnya sangat terik. Tidak ada tempat berteduh karena di atas gunung itu pepohonannya kering meranggas. Kami sangat lelah dan haus. Tapi semua itu terbayar saking puas dan senangnya dapat menemukan danau yang selama ini hanya kami dengar-dengar saja namanya. Kami merasa sangat beruntung. Tidak lama-lama berada di danau, kamipun turun karena akan langsung berangkat pulang. Sesampainya di padang edelweis, dari kejauhan aku melihat kau dan junior kita sedang asik memetik bunga edelweis. Aku menghampirimu dan mengingatkan agar jangan dipetik lagi, tapi kau tidak mengindahkan. Kau terus saja memetik edelweis. Itu menyebabkan kita beradu mulut lagi. Setelah beristrahat sejenak, kitapun segera mengemasi barang-barang. Karena hari sudah sore jadi harus bergegas agar tidak kemalaman di jalan. Kitapun akhirnya pulang.

Sahabat, ingatkah kau?

Saat kau tidak mengindahkan teguranku untuk tidak memetik edelweis lagi itu sangat membekas di hatiku. Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak memetiknya?  Tapi mengapa kau melanggar kesepakatan itu? Padahal harusnya kau menjadi contoh untuk junior kita bukannya malah bersama-sama melanggar kesepakatan. Junior kita mencontoh dirimu. Dia tidak mungkin berani memetik edelweis karena takut dimarahi oleh senior-seniornya. Hal seperti itu mungkin menurutmu sepele, tapi menurutku itu hal yang prinsipil.

Keesokan harinya di kampus, aku menghindarimu. Masih kesal rasanya. Seharian itu aku berkumpul dengan gengku. Tapi sehari saja kita tidak bertegur sapa rasanya seperti seminggu. Sungguh aku tidak bisa lama mendiamkanmu. Walau bagaimanapun kau adalah sahabatku. Besoknya, aku yang lebih dulu menegurmu dan akhirnya kita kembali seperti biasa lagi.

Sahabat, ingatkah kau?

Kau yang pertama kali menjulukiku “miss perfect”. Karena menurutmu aku  perfeksionis. Apa-apa harus sempurna. Tulisan rapi, catatan perkuliahan rapi, Lipatan baju di lemari rapi, tempat tidur rapi, dan semua-semuanya harus rapi. “Rapi jali” istilahmu. Kau bahkan pernah berkomentar ketika melihat tempat tidurku yang rapi, “Kalau rapi begini bisa-bisa terlalu nyenyak nanti tidurnya, jadi tidak bisa bangun tahadjud.” Ah, kata-katamu itu masih terngiang hingga sekarang. Kau sahabatku yang selalu menjaga solat lima waktu.

Sahabat, ingatkah kau?

Kita pernah jalan berdua ke lokasi jembatan yang belum jadi. Kau membawa kamera digital. Sampai disana kita foto-foto. Waktu itu belum zamannya handphone, apalagi yang pakai kamera. Sedang asyik foto-foto, tiba-tiba datang seorang ibu minta difoto juga. Kau mengiyakan. Kau potretlah ibu itu beberapa kali dengan berbagai posenya. Setelah itu si ibu minta di antarkan fotonya ke rumahnya. Dia lalu memberikan alamat lengkapnya. Aku sudah punya firasat pasti foto-foto si ibu tidak akan kau antarkan ke rumahnya. Bahkan tidak akan kau cetak fotonya. Sempat aku bilang padamu agar jangan berjanji, tapi seperti biasa kau tidak menggubris. Kau berjanji pada ibu itu akan mengantarkannya. Setelah ibu itu pergi, kita sempat adu mulut lagi. Menurutmu, kau hanya ingin menyenangkan ibu itu, tapi menurutku kau memberi harapan palsu. Kasian ibu itu pasti menunggu-nunggu fotonya. Kau tetap bersikeras hanya ingin menyenangkan hatinya. Aku tau maksudmu baik, tapi bukankah lebih baik jika tidak berbohong? Dan benarlah, foto ibu itu jangankan kau antarkan, kau cetak pun tidak. Ah, betapa kita selalu berselisih untuk hal-hal yang tidak kau anggap penting, sebaliknya menurutku penting.

Sahabat, ingatkah kau?

Waktu kuliah dulu kita bertiga mengidolakan penyanyi yang sama. Semua lagu milik penyanyi itu kita suka. Bahkan A punya semua albumnya (dulu masih berupa kaset). Biasanya kalau kita sedang menginap di rumah A, kita sering memutar lagu favorit kita sambil ikut bernyanyi. Aku dan A menyanyi biasa saja, sementara kau menyanyi dengan penuh penghayatan. Apalagi kalau itu lagu romantis atau lagu patah hati, kau akan menyanyikannya dengan wajah sendu dan dengan mata terpejam. Ah, sungguh pemandangan yang menghibur. Aku dan A pun tertawa jadinya.

Kau dan A suka sekali menyanyi. Suara kalian bagus. Biasanya kalau ada hajatan yang mengundang kita bertiga, pasti kalian berdua dengan senang hati menyumbangkan lagu. Aku biasanya hanya ikut-ikutan menyanyi saja biar ramai. Kalau ada teman yang sedang bermain gitar, kau dan A langsung merubungnya dan minta diiringi bernyanyi. Teman itupun sampai kelelahan dan menyerah karena terlalu lama melayani kalian.
Waktu kuliah dulu kita bertiga selalu bersama. Selalu saling bela jika ada salah seorang dari kita dijelek-jelekkan oleh orang lain. Jika ada orang yang berkata buruk tentangmu, maka aku dan A adalah pembela yang utama dan terdepan. Begitu pula jika ada yang berkata buruk tentangku dan A, maka kau akan jadi pembela utama. Kita selalu saling menyemangati dan memotivasi. Mungkin mereka iri melihat persahabatan kita. Karena walaupun ada riak-riak yang membuat kita berselisih, kita selalu saling mencari, selalu saling membutuhkan, dan selalu saling memaafkan. Dalam suka dan duka kita selalu bersama. Bercanda, tertawa, dan menangis bersama.

Sahabat, ingatkah kau?

Kau lebih dulu diwisuda ketimbang aku dan A. 6 bulan setelah kau wisuda, aku dan A pun diwisuda. Bahagia rasanya telah menyelesaikan kuliah, tetapi juga sedih karena harus berpisah dengan teman-teman kuliah. Singkat cerita, kau kembali ke kampungmu dan menjadi PNS di kotamu. A menjadi PNS juga di salah satu kabupaten yang dekat dari kota P, hanya berjarak 45 menit. Sementara aku bekerja di salah satu kabupaten yang sangat jauh dari kota P, 14 jam perjalanan darat ditambah 2 jam perjalanan laut, juga menjadi PNS.

Sebagai PNS yang bertugas di lapangan, aku menjadi lebih sibuk dari hari ke hari. Kita mulai jarang berkomunikasi karena sibuk dengan urusan masing-masing. Tapi setiap kali aku pulang ke kotaku, yaitu kota P, kita sempatkan untuk kumpul. Kaupun menyempatkan diri untuk datang karena kampungmu lumayan dekat dari kota P, hanya berjarak 2 jam perjalanan. Apalagi kau juga melanjutkan studi S2 di kota P yang perkuliahannya seminggu 2 kali. Kau dan A lebih sering bertemu. Kadang kau menginap di rumahnya jika kau sedang ada mata kuliah. Kadang kalian berdua hang out, nonton atau makan bersama. Aku memang sering absen karena tidak memungkinkan untuk bisa pulang setiap saat.

Kita jalan bareng lagi bulan Maret yang lalu saat ada gerhana matahari total di kotaku. Aku, kau, A, seorang teman gengku, dan keluarga A menyaksikan gerhana matahari dari salah satu spot yang kebetulan disitu ada beberapa orang peneliti dari Jepang. Setelah itu kita makan bersama di rumah keluarga A.  

7 bulan yang lalu aku mendengar kabar bahagiamu, bahwa kau akan menikah dengan seseorang yang sedang menjalin hubungan denganmu kurang dari setahun. Aku turut bahagia mendengarnya, mengingat kau yang paling sering galau urusan jodoh. Pernikahanmu akan dilangsungkan bulan Mei, bulan dimana aku sedang sibuk-sibuknya dengan agenda nasional yang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali, yang waktu pelaksanaannya sebulan penuh selama bulan Mei. Sedang sibuk-sibuknya di lapangan, aku jatuh sakit. Aku putuskan untuk pulang ke kotaku agar bisa mendapatkan perawatan lebih. Aku hanya diberi izin seminggu dari kantor. Sementara hari pernikahanmu kian dekat tetapi aku tidak mungkin bisa menambah izin lagi karena pekerjaan lapangan menunggu. Akhirnya aku dan 2 orang teman gengku sepakat untuk ke kampungmu sehari sebelum pernikahanmu. Kau terlihat bahagia saat itu. Kita makan siang bersama di rumahmu. Kami sengaja datang sehari sebelumnya karena keesokan harinya aku sudah harus kembali ke tempat tugasku sedangkan 2 orang teman gengku punya urusan masing-masing yang tidak bisa ditunda. Kau bercerita bahwa kau baru saja ujian tesis 3 hari sebelumnya sehingga fiskmu agak sedikit lelah. Aku bahagia mendengarnya. Aku minta maaf karena tidak dapat menghadiri pernikahanmu besoknya, dan kau memaklumi itu. Besoknya, aku boarding pagi-pagi sekali. Hari itu juga aku sampai di tempat tugas, dan di hari itu juga kau menikah.

2 bulan yang lalu aku kembali lagi ke kotaku. Aku dengar kabarmu telah mengandung 4 bulan. Aku bahagia mendengarnya. aku dan A janjian hang out bareng tanpa dirimu karena kondisimu agak lemah selama trimester pertama. Kami bergantian ngobrol denganmu via hp. kau katakan padaku bahwa kau diharuskan bed rest oleh dokter. Kau tidak diizinkan mengendarai sepeda motor sendiri, jadi setiap kali ke kantor kau diantar jemput oleh suamimu. Aku sarankan agar kau banyak istrahat, jangan dipaksakan ke kantor jika memang kondisimu lemah. Dan kau mengiyakan.

Seminggu yang lalu aku melihat di facebook ada postingan status terbarumu sedang di Rumah Sakit, lengkap dengan foto lenganmu yang diplester, ada tulisan namamu disitu dengan embel-embel ‘nyonya’ di depannya. Kau sedang dirawat karena demam tinggi yang tidak kunjung turun sehingga keluargamu memutuskan untuk membawamu ke Rumah Sakit. Saat itu aku sedang lelah karena baru pulang dari lapangan, ada tugas luar. Aku perhatikan sekilas statusmu itu tapi aku tak ikut berkomentar. Pikirku kau hanya sakit demam biasa, nanti juga sembuh. Waktu itu aku sedang tugas luar ke kabupaten tetangga.

Hari itu Senin tanggal 7 November 2016. Setelah 3 hari tugas luar, aku kembali ke kabupaten dimana kantorku dan kosanku berada. Aku tiba di kosku sekitar pukul 10 pagi, langsung beres-beres kamar, dan melakukan hal-hal rutin lainnya seperti nonton tivi, makan, solat, istrahat. Siang harinya A menelpon. Dia menanyakan apakah aku tau kalau dirimu sedang dirawat di Rumah Sakit, aku mengiyakan, hanya saja aku belum sempat menghubungimu. A sempat menjengukmu di Rumah Sakit. Kau berpesan padanya agar datang lagi menjengukmu hari Senin. Lalu aku dan A ngobrol soal lain. Setelah ngobrol di telpon dengan A, aku langsung mandi kemudian tidur siang.

Sedang nyenyak-nyenyaknya tidur siang, hpku bergetar. Aku lirik sekilas, ternyata telpon masuk dari seniorku di mapala yang memang masih sering berkomunikasi denganku. Dia langsung memberitahukan kabar duka, katanya temanku meninggal. aku yang tadinya masih mengantuk, bertanya padanya siapa temanku yang dimaksud. Dia lalu menyebut namamu. Ya Allah..! mendadak kantukku hilang seketika saking terkejutnya. Aku tidak percaya, kuulangi sekali lagi pertanyaanku, tapi tetap saja jawabannya sama. Innaalillaah..masih juga tidak percaya, begitu seniorku menutup telpon aku langsung menelpon A. A rupanya sudah mendengar kabar itu beberapa menit sebelum aku. Tantemu yang menelponnya. Saat aku telpon A, dia sedang bersiap-bersiap hendak ke Rumah Sakit. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku telpon ibuku siapa tahu saja sempat ke Rumah Sakit untuk mewakili ketidakhadiranku, karena jenazahmu akan langsung dibawa pulang ke kampungmu. Ibuku menyanggupi. Aku telpon juga adik tingkatku semasa kuliah yang merupakan teman mainku sejak kecil karena kami bertetangga (dia juga kenal baik denganmu) untuk ke Rumah Sakit mewakiliku. Aku telpon teman-teman gengku untuk memberitahukan kabar duka ini. Aku lalu update status di facebook untuk mengabari teman-teman kita, seketika postinganku dibanjiri komentar teman-teman yang tidak percaya bahwa kau telah berpulang menghadapNya.

Sahabat, maafkan aku, disaat-saat sakitmu aku tidak menghubungimu karena kesibukanku. Maafkan aku karena tidak ada disaat-saat penting dalam hidupmu yaitu saat kau menikah. Maafkan aku karena tidak ada disaat-saat terakhir hidupmu, bahkan aku juga tidak turut mengantarmu ke peristrahatan terakhirmu.

Sahabat, kepergianmu menyisakan duka yang mendalam. Ditengah-tengah kebahagiaanmu karena semua harapan dan cita-citamu terwujud setelah sekian lama kau menunggu. Kau berhasil menyelesaikan S2 dan bergelar Master, kau menikah 6 bulan yang lalu dan sedang membawa amanah Allah berupa jabang bayi yang berusia 5 bulan lebih di kandunganmu. Sungguh-sungguh kebahagiaan yang tiada tara. Kamipun turut merasakan kebahagiaanmu. Tetapi takdir Allah berkata lain. Betapa singkat kau reguk kebahagiaan itu.

Sahabat, kepergianmu yang begitu tiba-tiba membuatku sadar bahwa ajal bisa datang kapan saja dan tidak seorangpun tau kapan waktunya. Tua, muda, bahkan kanak-kanak, yang sedang sakit bahkan yang sehat wal’afiat, dalam keadaan apapun dan dimanapun juga jika telah tiba ajalnya maka tidak ada seorangpun yang dapat menolaknya. Benarlah apa yang dikatakan Imam Al-Ghazali bahwasanya yang paling dekat dengan diri kita adalah maut karena ia merupakan janji Allah yang pasti datangnya. Dan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Tinggal bagaimana kita mengisi hidup dengan memperbanyak amal shaleh untuk bekal kita kelak menghadapNya. 
  
Sahabat, tahukah kau?

19 tahun mengenalmu mengajarkanku mengelola emosi, menahan diri untuk tidak sensi. Lama kelamaan aku menjadi terbiasa. Perbedaan karakter kita justru membuat persahabatan kita semakin erat. Tidak banyak persahabatan yang mampu bertahan selama itu jika tidak bisa saling mengerti dan memahami. Menjadi sahabatmu membuatku mengerti, bahwa tidak perlu selalu menjadi sempurna. Bersahabat denganmu membuatku paham arti persahabatan itu sendiri.

Terimakasih sahabat, untuk persahabatan yang indah yang telah kita lalui bersama.

Terimakasih ya Allah, Engkau telah menjadikannya sahabat kami hingga akhir hayatnya. Semoga Engkau menempatkannya di surgaMu yang terindah...




In memoriam my beloved friend...

Jumat, 04 Mei 2012

"I cried for my brother six times"


Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis disekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

”Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”

Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi.

Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. sudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin.. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.
 oOo

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.

Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti aku mesti mengemis di jalanan aku akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering.

Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Aku akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.” Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

oOo

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas) . Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”

Dia menjawab,tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

oOo

Kali pertama aku membawa teman-teman Kuliahku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah teman-temanku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum,

“Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.

“Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…”

Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

oOo

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu,

“Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”

Mata suamiku dipenuhi air mata,dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”

“Mengapa membicarakan masa lalu?”
Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

oOo

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda.. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.

Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya.

Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.” Tepuk tangan membanjiri ruangan itu.

Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.
 
 
Source: Inspiring Story Group on Facebook

Bunda, Tolong Mandikan Saya

Semasa kuliah ia tergolong berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak awal, sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih yang terbaik, baik itu dalam bidang akademis maupun bidang profesi yang akan digelutinya. Ketika Universitas mengirim kami untuk mempelajari Hukum Internasional di Utrecht University, di negerinya bunga tulip, beruntung Rani terus melangkah. Sementara saya, lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran dan berpisah dengan seluk beluk hukum dan perundangan.
Beruntung pula, Rani mendapat pendamping yang "setara" dengan dirinya, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.

Alifya, buah cinta mereka lahir ketika Rani baru saja diangkat sebagai Staf Diplomat bertepatan dengan tuntasnya suami Rani meraih PhD. Konon nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah "alif" dan huruf terakhir "ya", jadilah nama yang enak didengar : Alifya. Tentunya filosofi yang mendasari pemilihan nama ini seindah namanya pula.Ketika Alif, panggilan untuk puteranya itu berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila saja. Frekuensi terbang dari satu kota ke kota lain dan dari satu negara ke negara lain makin meninggi.

Saya pernah bertanya , "Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal ?" Dengan sigap Rani menjawab : " Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya.
Everything is ok." Dan itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya walaupun lebih banyak dilimpahkan ke baby sitter betul-betul mengagumkan. Alif tumbuh menjadi anak yang lincah, cerdas dan pengertian. Kakek neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu tentang ibu-bapaknya.

"Contohlah ayah-bunda Alif kalau Alif besar nanti." Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani bertutur disela-sela dongeng menjelang tidurnya. Tidak salah memang. Siapa yang tidak ingin memiliki anak atau cucu yang berhasil dalam bidang akademis dan pekerjaannya. Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau Alif minta adik. Waktu itu Ia dan suaminya menjelaskan dengan penuh kasih-sayang bahwa kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini "dapat memahami" orang tuanya.

Mengagumkan memang. Alif bukan tipe anak yang suka merengek. Kalau kedua orang tuanya pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Kisah Rani, Alif selalu menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Rani bahkan menyebutnya malaikat kecil. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orang tua sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam hati kecil saya menginginkan anak seperti Alif.

Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby-sitternya. "Alif ingin bunda mandikan." Ujarnya. Karuan saja Rani yang dari detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, menjadi gusar. Tak urung suaminya turut membujuk agar Alif mau mandi dengan tante Mien, baby-sitternya. Persitiwa ini berulang sampai hampir sepekan, "Bunda, mandikan Alif?" begitu setiap pagi. Rani dan suaminya berpikir, mungkin karena Alif sedang dalam masa peralihan ke masa sekolah jadinya agak minta perhatian.Suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. "Bu dokter,
Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency". Setengah terbang, saya pun ngebut ke UGD. But it was too late. Allah SWT sudah punya rencana lain. Alif, si Malaikat kecil keburu dipanggil pemiliknya.Rani, bundanya tercinta, yang ketika diberi tahu sedang meresmikan kantor barunya,shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan anaknya. Dan itu memang ia lakukan, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. "Ini bunda, Lif. Bunda mandikan Alif." Ucapnya lirih, namun teramat pedih.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu berkata, "Ini sudah takdir, iya kan? Aku disebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, dia pergi juga kan?". Saya diam saja mendengarkan. "Ini konsekuensi dari sebuah pilihan." lanjutnya lagi, tetap tegar dan kuat.
Hening sejenak. Angin senja berbaur aroma kamboja. Tiba-tiba Rani tertunduk. "Aku ibunya!" serunya kemudian, " Bangunlah Lif. Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan bunda sekali lagi saja, Lif". Rintihan itu begitu menyayat. Detik berikutnya ia bersimpuh sambil mengais-ngais tanah merah…




Source: Inspiring Story Group on Facebook

Bagian Penting Tubuhmu


Ibuku selalu bertanya padaku, apa bagian tubuh yang paling penting. Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar. Ketika aku muda, aku pikir suara adalah yang paling penting bagi kita sebagai manusia, jadi aku jawab, "Telinga, Bu." Tapi, ternyata itu bukan jawabannya.
"Bukan itu, Nak. Banyak orang yang tuli. Tapi, teruslah memikirkannya dan aku menanyakan lagi nanti."
Beberapa tahun kemudian, aku mencoba menjawab, sebelum dia bertanya padaku lagi. Sejak jawaban pertama, kini aku yakin jawaban kali ini pasti benar. Jadi, kali ini aku memberitahukannya. "Bu, penglihatan sangat penting bagi semua orang, jadi pastilah mata kita."
Dia memandangku dan berkata, "Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta."
Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun ke tahun, Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban dia selalu, "Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun, Anakku."
 
Akhirnya tahun lalu, kakekku meninggal. Semua keluarga sedih. Semua menangis. Bahkan, ayahku menangis. Aku sangat ingat itu karena itulah saat kedua kalinya aku melihatnya menangis. Ibuku memandangku ketika tiba giliranku untuk mengucapkan selamat tinggal pada kakek.
Dia bertanya padaku, "Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting, sayang?"
Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku sering berpikir, ini hanyalah permainan antara Ibu dan aku.
 
Ibu melihat kebingungan di wajahku dan memberitahuku, "Pertanyaan ini penting. Ini akan menunjukkan padamu apakah kamu sudah benar-benar "hidup". Untuk semua bagian tubuh yang kamu beritahu padaku dulu, aku selalu berkata kamu salah dan aku telah memberitahukan kamu kenapa. Tapi, hari ini adalah hari di mana kamu harus mendapat pelajaran yang sangat penting."
Dia memandangku dengan wajah keibuan. Aku melihat matanya penuh dengan air. Dia berkata, "Sayangku, bagian tubuh yang paling penting adalah bahumu."
Aku bertanya, "Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?"
Ibu membalas, "Bukan, tapi karena bahu dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kamu sayangi ketika mereka menangis. Kadang-kadang dalam hidup ini, semua orang perlu bahu untuk menangis. Aku cuma berharap, kamu punya cukup kasih sayang dan teman-teman agar kamu selalu punya bahu untuk menangis kapan pun kamu membutuhkannya."
 
Akhirnya, aku tahu, bagian tubuh yang paling penting adalah tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri. Tapi, simpati terhadap penderitaan yang dialamin oleh orang lain.

Orang akan melupakan apa yang kamu katakan. Orang akan melupakan apa yang kamu lakukan. Tapi, orang TIDAK akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka berarti.




Source: Inspiring Story Group on Facebook 

Berapa Malaikat Yang Kau Temui Hari Ini?


Ya berapa malaikat yang sudah kau temui hari ini? Atau hari kemarin?
Di dalam perjalananmu menuju tempat kerja?
Atau dalam perjalananmu kembali ke rumah?
Berapa?
Bahkan itu di rumahmu sendiri. Berapa malaikat yang kau temui?

Tidak ada? Tidak mungkin! Siapa bilang?
Mari kita ingat-ingat lagi...

Mungkin dia yang membuatmu marah-marah karena membuatmu terbangun di tengah malam buta. Membuatmu terjaga dengan tangisan. Dan kau hanya berkata dengan bersungut-sungut, "Anak siapa sih? Resek amat malem-malem nangis. Berisik!"

Padahal mungkin ia membangunkanmu untuk sesuatu hal bermanfaat yang bisa kau lakukan di tengah malam itu. Shalat tahadjud mungkin…

Mungkin dia yang membuatmu sewot, ketika kau bertabrakan badan di jalan sehingga membuatmu terjatuh. Dan kau menjadi sedikit sakit dan malu. Dan kau membentaknya dengan ucapan, "Pake mata dong kalo jalan!" Padahal mungkin ia mengajakmu untuk berlatih bersabar dan malahan justru jika ia tidak menabrakmu kau akan sedetik lebih cepat dan mungkin ceritanya akan berbeda, tertabrak mobil barangkali...

Mungkin dia yang membuatmu berpikir buruk, sebab setiap hari ia selalu menengadahkan tangan padamu dengan pakaian compang-camping dan baju dekilnya. Sehingga membuat ini terbersit di pikiranmu, "Males amat sih ini orang. Badan masih seger gitu loh?" Padahal mungkin ia mengajakmu untuk berpikir positif dan lebih bermurah rejeki, setidaknya bermurah senyum.

Ya. Cobalah ingat-ingat lagi. Berapa kali dalam sehari kau membentak, menghardik, membenci, berprasangka, mencibir, memaki orang lain?

Berapa kali?

Sebab mungkin sebanyak itu pulalah kau berlaku tidak sepantasnya pada malaikat.

Senyumlah setiap hari pada siapapun yang kau jumpai.
Berpikirlah positif pada setiap orang yang kau temui.
Perlakukanlah orang lain dengan cara yang sama seperti kau mengharapkan orang lain memperlakukanmu.
Selalulah peka dalam menyikapi hidup ini, maka hidupmu akan lebih berarti... 
 
 
Source: Inspiring Story Group on Facebook